Beda Terjemah dan Teks Asli, Bukan Hanya Soal Rasa
@admin
Beda Terjemah dan Teks Asli, Bukan Hanya Soal Rasa
Cuma Bisa Terjemahan kok Banyak Gaya? Bahwa yang terucap belum tentu dikehendaki maknanya secara lahiriyah. Mari kita luruskan dulu. Ada "ucapan" dan ada "makna". Dua hal ini beda. Ucapan cuma masuk telinga (kalo berbentuk verbal) atau mata (kalo berbentuk tulisan), tapi makna butuh ilmu buat dipahami. Kalau soal ucapan Nabi atau Allah SWT, nggak semua bisa diartikan sesuai makna dzahirnya. Dari dulu, ulama ngajarin kalau ada teori dalam Ushul Fiqh namanya "majaz" dan "takwil". Inti teorinya, nggak semua teks itu dzahir (menggunakan makna literal). Masalahnya, kajian ini memang rumit dan butuh banyak belajar. Tapi apa yang terjadi? Orang-orang yang nggak paham teori ini kadang sok tahu. Cuma baca terjemahan (yang entah siapa penerjemahnya), langsung petantang-petenteng pakai dalil, merasa paling benar. Padahal, ini kayak anak SD baca buku fisika kuantum terus ngomong Einstein salah. Ya, absurd. Monggo dipikir bareng²: 1. "وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاك…