Syirkatul Inan Murabathah Nahdhatut Tujjar*
Oleh: Kyai Haji Abdul Wahab Chasbullah
Dengan menyebut Asma Allah yang menjadikan ayat ini sebagai mukjizat atas kekufuran yang hina: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوْا اللهَ كَثِيرًا الآية
Maka ketika salat telah ditunaikan, berhamburlah di bumi dan berharaplah pada anugerah Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak.
Dengan menyebut Asma Allah yang telah mengharamkan perdagangan semacam ja’alah[1] dan syirkah bagi orang yang tak mengerti beda antara ‘yang sah’ dan ‘yang rusak’.
Dengan menyebut Asma Allah yang telah menjadikan sabdanya إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ
apabila kalian berhutang dengan tujuan tertentu maka catatlah dan hendaknya salah satu dari kalian yang mencatatnya sebagai satu dari sekian banyak syari’at Islam yang cemerlang sebagaimana Allah menjadikan kebaikan prasangka antar hamba-hambanya sebagai hakikat yang menancap dan meresap.
Dengan menye…