Pesantren Menggugat

@admin
Dalam pemikiran umum, sekolah formal dengan semua perangkat gelar akademiknya selalu dihubungkan dengan modernitas, keilmuan, kemajuan, peningkatan status sosial, status ekonomi, dan status budaya bersifat hegemonic. Orang yang lulus sekolah tinggi dengan gelar akademik hingga doctor diasumsikan lebih tinggi status sosial, ekonomi dan budayanya dibanding yang sekolah rendah. Mereka yang bersekolah dianggap sebagai orang yang berpendidikan. Bahkan sekolah dikaitkan dengan nasib baik orang seorang. Mereka yang tidak sekolah dianggap sebagai calon manusia bodoh, buta huruf, tidak berilmu pengetahuan, tidak bisa mendapat lapangan kerja, pikiran picik, miskin, sengsara. Benarkah pandangan ini? Yang lebih celaka, tanpa pengembangan sekolah yg baik, sebuah bangsa akan terbelakang, ketinggalan, bodoh, primitif, buta huruf, tidak beradab, sengsara. Benarkah pandangan ini? *Kunci postulat: Sistem Persekolahan yg diberikan kepada inlander terjajah dimulai tahun 1901 -- saat Etische Politiek -- d…