a tribute to Mbah Maimun Zubair
Beberapa tahun lalu, di sebuah pengajian kitab yang terbuka untuk umum, almarhum Mbah Maimun Zubair ketika memberi pengantar tentang kealiman para tokoh di balik kitab tersebut. Tiba-tiba beliau berseloroh kepada Gus Baha’ yang waktu itu juga hadir. “Nek kowe karo aku pinter endi, Ha’?” Dengan wajah tersenyum, Gus Baha’ menjawab spontan, “Pinter kula sekedhik, Mbah...” Mbah Maimun tertawa. Demikian juga para hadirin. Kisah itu, saya dapatkan dari seorang sahabat yang tinggal di Yogya, tapi rajin sowan ke Mbah Maimun. Seloroh tersebut bukan hanya menunjukkan kedekatan Mbah Maimun dengan salah satu santrinya yang punya kadar kealiman mendalam. Kalau tidak diakui kealimannya, rasanya tidak mungkin Mbah Maimun bertanya demikian kepada Gus Baha’. Dan tentu saja menunjukkan hubungan yang ‘istimewa’ antara sang kiai dengan sang santri. Kalau Anda rajin mendengarkan pengajian Gus Baha’, nama orang alim yang paling sering disebut beliau adalah Mbah Maimun, selain itu tentu saja nama ayah Gus Baha…