Sang Mujiz Dalail Al Khairat KH Yasin Mbareng

@admin

Cahaya dari Timur Kudus: Biografi KH. Yasin Mbareng Kudus, Sang Pengasuh Jiwa dan Pelopor Pesantren Riyadloh 

Di balik ketenangan kawasan Mbareng, Kudus, terbentang jejak sejarah spiritual yang mendalam, yang dipelopori oleh seorang ulama besar pengasuh jiwa. Beliau adalah KH. Yasin, seorang figur sufi bersahaja yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menempa generasi santri melalui jalur riyadloh (tirakat).

Kisah hidup beliau bukan sekadar biografi biasa, melainkan sebuah riwayat tentang keteguhan ilmu, pengembaraan spiritual yang tangguh, dan warisan berkah yang cahayanya tetap memancar lintas zaman.

Fajar di Bumi Pati, Tumbuh dalam Dekapan Ulama

KH. Yasin lahir sekitar tahun 1890-an di Desa Cebolek, Margoyoso, Pati, sebuah tanah bersejarah yang namanya pernah diabadikan dalam Serat Cebolek karya Yasadipura II. Lahir dengan nama kecil Soekandar, beliau merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan H. Amin (Tasmin) dan Salamah.

Garis takdir membawa Soekandar kecil menjadi seorang anak yatim sejak dini. Sang ayah berpulang ke rahmatullah di tanah suci Mekah saat menunaikan ibadah haji dan dimakamkan di Baqi'. Di ambang masa kanak-kanak yang penuh ujian, beliau kemudian diangkat anak oleh Mbah Salam (kakek dari ulama kharismatik KH. MA. Sahal Mahfudh). 

Pengasuhan di lingkungan ahli ilmu inilah yang menempa karakter dan kecintaan mendalam Soekandar terhadap agama. Nama Yasin sendiri beliau gunakan setelah menunaikan ibadah haji, nama yang kelak abadi di hati para santri.

Pengembaraan Ilmu: Dari Jamsaren hingga Tanah Suci

Semangat belajar Mbah Yasin muda dikenal sangat luar biasa. Beliau adalah santri yang cerdas, lincah, dan memiliki daya tangkap tinggi. Menariknya, beliau jarang memberikan makna (ngabsahi) pada kitab-kitabnya, namun pemahamannya melampaui santri-santri lain.

Kecerdasannya yang di atas rata-rata terbukti saat beliau nyantri kepada Kiai Idris di Jamsaren, Solo. Pada usia yang baru menginjak 25 tahun, Mbah Yasin sudah diizinkan mengikuti pengajian kitab Al-Hikam, sebuah kelas berat yang kala itu disyaratkan khusus bagi santri senior yang telah berusia 40 tahun ke atas.

Dahaga akan ilmu agama membawa Mbah Yasin mengembara ke berbagai penjuru nusantara untuk mereguk ilmu dari para ulama besar, di antaranya:

 ❖ KH. Kholil Bangkalan (Madura)
❖  Kiai Abdussalam bin Abdillah (Kajen, Pati)
 ❖ Kiai Sanusi bin Ya’qub (Jekulo, Kudus)
 ❖ Kiai Nawawi (Sidogiri)
 ❖ Kiai Kholil Harun (Kasingan, Rembang)
 ❖ Mbah Amir (Pekalongan)

Tak puas sampai di situ, Mbah Yasin melanjutkan rihlah ilmiahnya ke kota suci Mekah. Di sana, beliau bermukim dalam waktu yang cukup lama, memperdalam sanad keilmuan, dan menjalin hubungan erat dengan jajaran ulama besar Hijaz.

 Mendirikan Pondok Mbareng: Kiblat Santri Riyadloh

Sepulang dari Mekah, Mbah Yasin kembali ke Cebolek sebelum akhirnya menetap di Desa Jekulo, Kudus, setelah mempersunting Muthi’ah binti KH. Yasir, putri seorang ulama setempat.

Di Jekulo inilah kharisma keilmuan beliau mulai memancar. Sekitar tahun 1918 M, beberapa anak tetangga mulai berdatangan untuk mengaji Al-Qur'an di kediaman beliau. Berawal dari hanya tiga santri salah satunya H. Abdul Hamid dari Klaling, jumlah pencari ilmu kian hari kian membeludak. Atas saran guru sufinya, Mbah Kiai Sanusi, Mbah Yasin akhirnya membangun tempat khusus untuk mengaji. Pada tahun 1923 M, seiring derasnya arus santri dari luar daerah, pesantren ini resmi berdiri.

Awalnya, pesantren ini tidak memiliki nama resmi. Masyarakat dan santri mengenalnya sebagai Pondok Mbareng, merujuk pada nama halte/stasiun kereta api terdekat di Dukuh Mbareng, Desa Hadipolo.

Ciri Khas Pesantren Riyadloh

"Di bawah asuhan Mbah Yasin (1918–1953), Pondok Mbareng tidak hanya mengajarkan kitab-kitab salaf (kuning), tetapi juga menjadi kawah candradimuka bagi para penempuh jalan spiritual (tirakat). Para santri diwajibkan hidup prihatin dan dilarang mengonsumsi makanan yang enak-enak demi menjernihkan hati dalam menuntut ilmu."

Kepribadian, Warisan, dan Akhir Hayat

Mbah Yasin adalah potret sejati kiai pesantren: bersahaja, arif, lurus, dan sangat egaliter. Beliau memandang dan memperlakukan semua orang dengan derajat yang sama tanpa membeda-bedakan status sosial.

Sebagian besar umur beliau dihabiskan di dalam pondok untuk menemani dan mendidik santri. Di samping mengajar, beliau juga meninggalkan karya tulis, di antaranya Syarah Asmaul Husna dan kumpulan naskah Khutbah Idul Fitri/Idul Adha berbahasa Arab.

Namun, warisan spiritual beliau yang paling masif dan masih diamalkan oleh ribuan kaum muslimin hingga hari ini adalah Ijazah Dalail al-Khairat, sebuah amalan selawat yang menjadi wasilah kedekatan diri kepada Allah sekaligus simbol keprihatinan para penuntut ilmu.

Setelah 35 tahun mengabdi bagi umat dan melahirkan tatanan masyarakat Jekulo yang religius, Mbah Yasin berpulang ke hadirat Illahi pada hari Rabu Pon, 30 Desember 1953 M (Rabiul Akhir 1373 H). Jasad sang waliyullah dimakamkan dengan penuh khidmat di samping Masjid Jami’ Kauman Jekulo, Kudus.

Estafet Perjuangan dan Lahirnya Ulama Besar

Pondok Mbareng kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Muhammad bin Yasin. Pada tahun 1979 M (1399 H), sang putra resmi menamai pesantren peninggalan ayahnya ini dengan nama Pondok Pesantren Al-Qaumaniyah, mengambil nama Dukuh Kauman tempat pesantren tersebut berdiri.

Kini, buah manis dari ketulusan Mbah Yasin dalam mendidik dapat dilihat dari suburnya pondok pesantren di Jekulo (kini berdiri lebih dari 10 pesantren). Lebih dari itu, madrasah riyadloh yang beliau rintis telah mencetak deretan ulama penuntun umat di berbagai daerah, seperti:

 ❖ KH. Muhammadun (Pondohan, Pati)
 ❖ KH. Ahmad Basyir (Jekulo, Kudus)
❖ KH. Hambali (Kudus)
 ❖ KH. Ma’mun (Kudus)
❖  KH. Hanafi (Jekulo, Kudus)
❖ KH. Shaleh (Sayung, Demak)
❖ Habib Muhsin (Pemalang)
❖ Habib Ali bin Syihab (Mayong, Jepara)
❖ Habib Muhammad Al Kaff (Magelang)

...

Posting Komentar