Framing Negatif atas Pesantren: Sebuah Kekeliruan Paradigma
Baru-baru ini, Senin kemarin tanggal 13 Okt 2025, salah satu stasiun televisi nasional Trans 7 menayangkan sebuah liputan yang menyorot kehidupan pesantren. Dalam tayangan tersebut, publik disodorkan narasi visual yang menggambarkan pesantren sebagai ruang feodalisme di mana ada kiai menerima amplop dari santri. Lalu dinarasikan dg cekikak cekikik oleh suara perempuan , bhw kiai itu mobilnya mewah, sarungnya mahal. Para santri harus jongkok atau ngesot di hadapan kiai, hingga kerja bakti atau ro an dianggap sebagai bentuk perendahan martabat. Framing semacam ini tentu memantik kegelisahan banyak kalangan, terutama keluarga besar pesantren. Masalahnya bukan semata pada fakta visual yang disajikan, melainkan pada cara pandang (paradigma) yang melatarinya. Media, dengan kacamata eksternal (paradigma etik), melihat fenomena pesantren dengan logika institusi modern sekuler: hubungan guru-murid dipahami semata-mata dalam kerangka relasi pedagogik formal, seperti sekolah umum. Padahal, dunia …