Cinta di Balik Dapur dan Samudra Ilmu yang Tiada Tepi: Mengenang KH. Muhammadun Pondowan Pati
Bagi masyarakat Pati dan kalangan pesantren, nama KH. Muhammadun Pondowan adalah menara ilmu yang menjulang tinggi. Beliau adalah potret alim allamah, seorang begawan nahwu dan sastra Arab yang otaknya laksana perpustakaan berjalan.
Namun, jika kita menyelami sisi paling personal dari hidupnya, kita akan menemukan bahwa keagungan jiwa Mbah Madun justru lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh cinta dan takzim.
Di balik sorban dan kitab-kitab tebal yang dikajinya, ada sebuah cerita yang begitu menyentuh hati tentang bagaimana beliau memuliakan sang istri.
Romantisme Sufistik di Balik Asap Dapur
Setiap malam, ketika sunyi mulai merayap di Pondowan, Mbah Madun punya ritual yang barangkali tak lazim bagi seorang ulama besar di zamannya: beliau memasak sendiri untuk istrinya.
Melihat sang guru sibuk di dapur, seorang santri merasa tak tega. Dengan penuh takzim ia mendekat dan matur, "Yai, kersane kulo mawon sg masak." (Kyai, biar saya saja yang memasak).
Mbah Madun tersenyum, lalu menggeleng lembut. "Ojo nang. Aku masakke bojoku iki sebab hurmat karo guruku." (Jangan, Nak. Aku memasak untuk istriku ini karena menghormati guruku).
Istri Mbah Madun ternyata bukan wanita sembarangan. Beliau adalah putri dari Mbah Yasin Waliyullah, guru yang sangat dihormati oleh Mbah Madun. Bagi beliau, melayani sang istri bukan sekadar kewajiban domestik atau bentuk romantisme biasa, melainkan sebuah jalan khidmah (pengabdian) dan penghormatan spiritual kepada sang guru. Di tangan Mbah Madun, bumbu dapur dan nyala api berubah menjadi wasilah keberkahan yang mengharukan.
Sang Penjaga Benteng Terakhir Alfiyah Mukhtar bin Bunah
Jika di rumah beliau adalah suami yang lembut, maka di atas dampar mengajar, Mbah Madun adalah singa podium ilmu alat. Kealimannya dalam ilmu nahwu (tata bahasa Arab) berada di maqam yang jarang tertandingi.
Sejak masa mudanya saat nyantri di Mbareng, Kudus, beliau sudah dikenal sangat istiqamah mengkaji kitab Dahlan Alfiyah. Maka tak heran, di kemudian hari beliau menjadi salah satu ulama Jawa bahkan mungkin yang terakhir yang sanggup mengajar kitab Alfiyah Mukhtar bin Bunah as-Syinqithi.
Kitab ini bukan sembarang kitab. Jika Alfiyah Ibnu Malik yang legendaris itu berisi 1.002 bait nadzam, Ibnu Bunah melengkapinya hingga menjadi lebih dari 3.000 bait. Kitab yang dikenal juga dengan nama Turroh Ibnu Bunah ini memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Saat ini, hampir tidak ada pesantren di Nusantara yang mengajarkannya, kecuali di tanah asalnya di Syinqith, Afrika Mauritania."
Syaikhuna Sanusi Yasin pernah mengenang dengan bangga, "Aku iki termasuk santri terakhir seng ngaji Alfiyah Ibnu Bunah karo Mbah Madun." ( Saya ini termasuk santri terakhir yang mengaji Alfiyah Ibnu Bunah dengan Mbah Madun)
Sebuah testimoni yang menegaskan betapa mahalnya mutiara ilmu yang dimiliki Pondowan saat itu.
Goresan Tangan yang Belum Usai
Kejeniusan Mbah Madun tidak hanya berhenti pada membaca dan mengajar, tetapi juga menulis. Beliau bahkan sempat menyusun Syarah (penjelasan) untuk Alfiyah Suyuthi.
Kita tahu, Imam As-Suyuthi adalah ulama yang dikenal "percaya diri" tinggi dan mengklaim nadzamnya lebih keren dari Ibnu Malik. Dan Mbah Madun, sang ulama dari Pati, mampu membedah dan memberi syarah atas kitab rumit tersebut.
Meski karya itu tidak sampai rampung, naskah asli (manuskrip) tulisan tangan Mbah Madun yang sangat indah dan rapi kini tersimpan rapi sebagai pusaka ilmu di Perpustakaan Pondowan. Siapa pun yang berkesempatan membacanya pasti akan berdecak kagum, melihat bagaimana ketelitian seorang ulama diukir lewat tinta hitam di atas kertas.
Bukan hanya nahwu, Mbah Madun adalah maestro sastra Arab ( Balaghah). Beliau adalah pengampu setia kitab Talkhisul Miftah karya Imam as-Sakkaki, kitab babon yang menjadi hulu dari kitab-kitab sastra populer seperti Jauhar al-Maknun.
Samudra Ilmu Tanpa Kitab di Menara Kudus
Salah satu fragmen paling ikonik yang mencatatkan kejeniusan Mbah Madun adalah saat beliau diundang dalam forum Munadzarah (debat ilmiah/bahtsul masail) di Menara Kudus.
Saat ulama lain datang dengan tumpukan kitab tebal sebagai referensi, Mbah Madun melangkah dengan tenang tanpa membawa satu pun kitab di tangannya. Semua khazanah fiqh, ibaratnya, sudah melekat di luar kepala beliau.
Setiap argumen, teks kitab, hingga detail halaman yang beliau sampaikan dalam forum tersebut begitu presisi. Begitu luar biasanya apa yang disampaikan Mbah Madun hari itu, hingga KH. Sya'roni Ahmadi Kudus mencatat dan membukukan fatwa-fatwa lisan beliau. Catatan itulah yang kemudian abadi menjadi sebuah kitab ilmiah berjudul "Al-Faraidus Saniyyah".
Lahul Fatihah...
KH. Muhammadun Pondowan telah tiada, namun keteladanannya menolak untuk runtuh dimakan zaman. Beliau memberi kita pelajaran berharga: bahwa ilmu yang setinggi langit yang mampu merajai bait-bait Turroh Ibnu Bunah harus tetap membumi di lantai dapur rumah sendiri demi takzim kepada guru dan cinta kepada keluarga.
Beliau adalah perpaduan sempurna antara ketajaman akal, keindahan sastra, dan kelembutan hati.
Alfatihah... Mengenang KH. Muhammadun Pondowan Pati