Di antara perkara yang menenangkan hati seorang muslim adalah menyadari bahwa agama ini tidak dibangun di atas pendapat pribadi, tetapi di atas wahyu dan jalan yang ditempuh para ulama umat. Karena itu, memegang ijma’ ulama bukanlah mempersempit diri, tetapi justru menjaga diri agar tidak tersesat oleh hawa nafsu dan pendapat yang menyendiri.
Allah ﷻ berfirman:
{ وَمَن یُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَیَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیلِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَاۤءَتۡ مَصِیرًا }
[Surat An-Nisa': 115]
“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, niscaya Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dipilihnya itu, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. An-Nisa’: 115)
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan agungnya mengikuti jalan kaum mukminin dan bahaya menyelisihi kesepakatan mereka.
Beberapa maqolah ulama yang sangat menyentuh tentang hal ini:
“الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ، وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ”
“Bersama jamaah (kebenaran ulama muslimin) adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.”
Dari Abdullah bin Mas'ud:
“مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ”
“Apa yang dipandang baik oleh Ulama muslimin, maka di sisi Allah itu baik.”
Dari Imam Al-Auza'i:
“اصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ، وَقِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، وَقُلْ بِمَا قَالُوا، وَكُفَّ عَمَّا كَفُّوا عَنْهُ”
“Tahanlah dirimu di atas sunnah. Berhentilah pada batas tempat Ulama terdahulu. Katakan apa yang mereka katakan, dan diamlah dari apa yang mereka diamkan.”
Dari Imam Asy-Syafi'i:
“مَنْ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ”
“Barangsiapa menetapkan sesuatu hanya berdasarkan anggapan baik menurut akalnya sendiri, maka ia telah membuat syariat sendiri.”
Tidaklah seseorang merendahkan dirinya ketika mengikuti ijma’ ulama. Justru itu tanda tawadlu’. Karena agama ini lebih tua daripada akal kita, dan para ulama telah menghabiskan umur mereka untuk menjaga batas-batas syariat.
Orang yang selamat bukanlah yang paling banyak pendapatnya, tetapi yang paling dekat dengan jalan para ulama umat.
Bila hati bingung oleh banyaknya suara dan pendapat, maka berpeganglah pada jalan yang telah disepakati para ulama. Sebab Allah tidak akan mengumpulkan umat ini di atas kesesatan.
"لا تجتمع أمتي على ضلالة"
“Umatku tidak akan berkumpul di atas kesesatan.”
Hadits ini menjadi salah satu dalil tentang terjaganya ijma’ (kesepakatan) Ulama Islam, khususnya para ulama mujtahid, dari kesesatan.
Ada perkataan indah Umar bin Abdul Aziz:
“قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، فَإِنَّهُمْ عَلَى عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا”
“Berhentilah di tempat Ulama terdahulu berhenti. Karena mereka berhenti di atas ilmu, dan menahan diri dengan bashirah yang tajam.”